Surabaya sudah berusia 716 tahun tepat 31 Mei 2009. Penetapan hari jadi Surabaya diambil tatkala pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan.
Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai BOYO (buaya/bahaya)dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai ikan SURO (ikan hiu/berani), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya. (sumber : Wikipedia)
Kisah soal sejarah Surabaya saya sudahi dulu. Kebetulan saya punya teman seorang fotografer, Bhakti Pundhawa (rekan saya ketika masih di Surabaya Post) dan dia punya banyak koleksi foto hasil jepretan kameranya.
Foto pertama dipotret di Kalimas. Aktivitas bersih-bersih sebagian warga urban yang menjajal nasib di kota Buaya ini. Sepengetahuan saya Kalimas itu kini airnya sudah gak jernih lagi tapi tidak masalah buat mereka untuk membersihkan diri dari debu yang melekat di tubuh kaum urban.
Masih di Kalimas, bocah-bocah bertelanjang dada riang bermain di atas air. Tak ada takut kotor, tak ada rasa merinding, yang pasti mereka punya tempat berenang di Surabaya. Mungkin saja kolam renang yang ada di Surabaya ini harga tiketnya melambung, tak terjangkau. Tapi gak masalah, seperti bunyi pepatah : tak ada rotan akar pun jadi, begitulah kira-kira yang ada di benak mereka.
Kalimas, sungai yang membelah kota Surabaya dilihat dari atas.
Selamat Ulang Tahun Surabaya. Dan, jangan lupakan juga pesan dari Gombloh untuk “Lestarikan Alamku” agar selalu “Tentrem Kartaraharja”
Tulisan ini saya ambil dari harian pagi Radar Surabaya edisi Rabu 1 April 2009. Waktu itu kebetulan di Radar Surabaya ada halaman politik, tepatnya di halaman 9. Di halaman itulah berita soal saya di muat.
Bulan November, sepertinya bulan yang paling diingat warga Surabaya, bahkan mungkin juga mengalahkan bulan Mei, bulan dimana HUT Kota Surabaya ini dirayakan. Pada November, ada peristiwa heroik pertempuran 10 November, di dalam peristiwa itu yang menjadi tokoh arek Suroboyo adalah Bung Tomo, yang baru setahun ini dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI.
Untuk mengenang heroisme arek-arek Suroboyo melawan penjajah itu, berdirilah nama sebuah stadion Gelora 10 November (tapi aneh, orang Surabaya terbiasa menyebut gelora Tambaksari!!!!!). Tapi, kalau bulan November seperti ini, pasti yang teringat adalah Hari Pahlawan, yang pasti dingat Surabaya adalah Kota Pahlawan, dan tidak lupa Bung Tomo.
Biasanya, warga Surabaya akrab dipanggil Cak atau Rek, tapi Bung tomo tidak. Ia lebih dikenal dengan sebutan Bung. Untuk melengkapi tulisan ini, saya mengutip artikel di Harian Surya, tempat saya pernah bekerja dulu.
Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Ia melewati masa kecil hingga dewasa di Surabaya. Arek Suroboyo asli. Tapi, nama masyhurnya bukan Cak Tomo, melainkan Bung Tomo. Inilah biodata singkat Cak, eh, Bung Tomo.
Masa remaja:
1. Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) Lulus Ujian Pandu Kelas I (yang pertama di Jawa Timur dan kedua untuk seluruh Indonesia), di Indonesia waktu itu hanya ada tiga pandu kelas satu.
2. Sekretaris Parindra ranting anak cabang di tembok duku, Surabaya sekitar tabun 1937.
3. Ketua ke1ompok sandiwara Pemuda Indonesia raya di Surabaya, mementaskan cerita-cerita perjuangan tahun 1939 sampai balatentara Jepang datang.
Masa Pemuda:
1. Wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937.
2. Wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939.
3. Redaktur Mingguan Pembela Rakyat, di Surabaya 1938.
4. Pembantu koresponden untuk Surabaya, Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta, sebelum perang di bawah asuhan almarhum Anjar Asmara.
5. Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang).
6. Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.
Masa Revolusi Fisik 1945-1949:
1. Ketua umum/pucuk pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabangnya di seluruh Indonesia. BPRI mendidik, melatih dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata ke seluruh wilayah tanah air. Setiap malam mengucapkan pidato dari Radio BPRI untuk mengobarkan semangat perjuangan yang selalu di relai oleh RRI di seluruh wilayah Indonesia (1945-1949). Sebagai pimpinan BPRI sejak 12 Oktober 1945 sampai Juni 1947 (sampai dilebur didalam Tentara Nasional Indonesia).
2. Anggota Dewan Penasehat Panglima Besar Jenderal Sudirman.
3. Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata Seluruh Jawa dan Madura.
4. Dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia, bersama Jenderal Sudinnan, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Soerjadarma, Laksamana Nazir dan sebagainya, dengan pangkat Mayor Jenderal TNI AD, dengan tugas koordinator AD, AL, AU di bidang informasi dan perlengkapan perang.
5. Anggota Staf Gabungan Angkatan Perang RI.
6. Ketua Panitia Angkutan Darat (membawahi bidang kereta api, bis antar kota dan sebagainya, dengan tugas mengkoordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah RI) dan bertanggung jawab langsung kepada Panglima Besar TNI.
7. Membuat siaran pengumuman panggilan masuk kemiliteran RI yang pertama.
Sumber: Bung Tomo Suamiku, Jakarta (Pustaka Sinar Harapan, 1995)
Bingung mau jual atau rumah, atau bingung mencari produk properti lainnya? Meluncur saja ke alamat http://grahakita.com. Tak perlu keluar rumah, mata tak perlu melotot, membaca baris demi baris tulisan super kecil iklan baris di media cetak. Cukup klik, apa yang anda cari. lanjut
Anak saya, Respati Ramadhan Agsa paling suka bermain mobil-mobilan beralaskan karpet. Karena seringnya dipakai bermain, karpet jadi berubah kusam, lusuh, kucel… Dan tentu saja…bau. lanjut
Lebaran adalah ketupat, opor ayam dan sirup yang menyelingi di sela-sela obrolan dalam kunjungan. Orang menyebutnya silaturahim, meski dengan keakraban yang terasa berlebih. Namun sebelum menikmati itu, orang-orang menjalani waktu, menit, jarak dalam ritus sosial yang sering disebut mudik. lanjut
Cak William Shakespeare pernah berujar “Apalah arti sebuah nama?. Mungkin saja, kalimat ini yang ‘mengilhami’ dedaunan untuk menutupi nama sebuah jalan. Atau mungkin saja, si papan penunjuk nama jalan itu malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik rimbunnya daun pepohonan? Tapi…prosoko, yo gak mungkinlah, kemungkinan loro sing tak sebutno ndhek dhuwur kuwi. Lha terus sopo sing salah? (Yo sing nang penjara) lanjut
Arsip pembentukan Propinsi Jawa Timur, klik untuk memperbesar gambar. Jika ingin mendownload, anda bisa meng-klik masing-masing gambar. Semoga bermanfaat…
Tak beda dengan teroris yang ruang geraknya kian sempit petugas Densus 88, para perokok yang ada di wilayah Surabaya kini tak leluasa lagi mengotori udara Surabaya. lanjut
Bulan November, sepertinya bulan yang paling diingat warga Surabaya, bahkan mungkin juga mengalahkan bulan Mei, bulan dimana HUT Kota Surabaya ini dirayakan. Pada November, ada peristiwa heroik pertempuran 10 November, di dalam peristiwa itu yang menjadi tokoh arek Suroboyo adalah Bung Tomo, yang baru setahun ini dianugerahi gelar pahlawan ...