
Cak William Shakespeare pernah berujar “Apalah arti sebuah nama?. Mungkin saja, kalimat ini yang ‘mengilhami’ dedaunan untuk menutupi nama sebuah jalan. Atau mungkin saja, si papan penunjuk nama jalan itu malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik rimbunnya daun pepohonan? Tapi…prosoko, yo gak mungkinlah, kemungkinan loro sing tak sebutno ndhek dhuwur kuwi. Lha terus sopo sing salah? (Yo sing nang penjara)
Kalau melihat pemandangan seperti ini, bisa menjadi bahan untuk mainan tebak-tebakan. Ayo, apa nama jalan itu?
Sama saja dengan yang di atas, ayo tebak apa nama jalan ini?
Papan nama jalan yang di atas itu memang berdiri di jalan yang kurang “terkenal” atau bukan jalan besar. Tapi yo kenemenan cak, kok yo gak diurus. Misalnya saja jalan Melati yang berada di kawasan Kusuma Wijaya, jalan KH Misbakh dan jalan Sam Ratulangi yang berdekatan dengan jalan Kartini.

