Berapa sih biaya yang dibutuhkan untuk membuat website? Jangan dulu berpikir mahal. Sebab, dengan hanya bermodal Rp 500 ribu website yang kita inginkan sudah bisa online. Nominal itu sudah termasuk ongkos jasa membuat page dan tampilan. lanjut
Anak saya, Respati Ramadhan Agsa paling suka bermain mobil-mobilan beralaskan karpet. Karena seringnya dipakai bermain, karpet jadi berubah kusam, lusuh, kucel… Dan tentu saja…bau. lanjut
Eh…Kok gitu sih…
Alat pengukur pemakaian arus listrik milik PLN (meteran listrik) ini bisa menempel di sebuah pohon Sono yang masih hidup di kawasan Surabaya Selatan. lanjut
Tulisan ini masih berkaitan dengan HUT Jatim yang ke-64. Kali ini soal Gubernur Jawa Timur pertama (mengacu pada hari lahir Propinsi Jatim 12 Oktober 1945), yakni Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, biasa dikenal dengan nama Gubernur Soerjo. lanjut
Tulisan ini saya ambil dari harian pagi Radar Surabaya edisi Rabu 1 April 2009. Waktu itu kebetulan di Radar Surabaya ada halaman politik, tepatnya di halaman 9. Di halaman itulah berita soal saya di muat.
Nyaris tidak pernah kering menemukan cerita dari Makam Peneleh. Tokoh-tokoh terkenal dan peristiwa yang mewarnainya semasa hidup tersebar di setiap sudut. Kebesaran nama orang-orang yang dikubur itu tergambar dari bentuk pusara yang berlomba-lomba menghadirkan kemewahan. lanjut
Bulan November, sepertinya bulan yang paling diingat warga Surabaya, bahkan mungkin juga mengalahkan bulan Mei, bulan dimana HUT Kota Surabaya ini dirayakan. Pada November, ada peristiwa heroik pertempuran 10 November, di dalam peristiwa itu yang menjadi tokoh arek Suroboyo adalah Bung Tomo, yang baru setahun ini dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI.
Untuk mengenang heroisme arek-arek Suroboyo melawan penjajah itu, berdirilah nama sebuah stadion Gelora 10 November (tapi aneh, orang Surabaya terbiasa menyebut gelora Tambaksari!!!!!). Tapi, kalau bulan November seperti ini, pasti yang teringat adalah Hari Pahlawan, yang pasti dingat Surabaya adalah Kota Pahlawan, dan tidak lupa Bung Tomo.
Biasanya, warga Surabaya akrab dipanggil Cak atau Rek, tapi Bung tomo tidak. Ia lebih dikenal dengan sebutan Bung. Untuk melengkapi tulisan ini, saya mengutip artikel di Harian Surya, tempat saya pernah bekerja dulu.
Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Ia melewati masa kecil hingga dewasa di Surabaya. Arek Suroboyo asli. Tapi, nama masyhurnya bukan Cak Tomo, melainkan Bung Tomo. Inilah biodata singkat Cak, eh, Bung Tomo.
Masa remaja:
1. Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) Lulus Ujian Pandu Kelas I (yang pertama di Jawa Timur dan kedua untuk seluruh Indonesia), di Indonesia waktu itu hanya ada tiga pandu kelas satu.
2. Sekretaris Parindra ranting anak cabang di tembok duku, Surabaya sekitar tabun 1937.
3. Ketua ke1ompok sandiwara Pemuda Indonesia raya di Surabaya, mementaskan cerita-cerita perjuangan tahun 1939 sampai balatentara Jepang datang.
Masa Pemuda:
1. Wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937.
2. Wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939.
3. Redaktur Mingguan Pembela Rakyat, di Surabaya 1938.
4. Pembantu koresponden untuk Surabaya, Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta, sebelum perang di bawah asuhan almarhum Anjar Asmara.
5. Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang).
6. Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.
Masa Revolusi Fisik 1945-1949:
1. Ketua umum/pucuk pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabangnya di seluruh Indonesia. BPRI mendidik, melatih dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata ke seluruh wilayah tanah air. Setiap malam mengucapkan pidato dari Radio BPRI untuk mengobarkan semangat perjuangan yang selalu di relai oleh RRI di seluruh wilayah Indonesia (1945-1949). Sebagai pimpinan BPRI sejak 12 Oktober 1945 sampai Juni 1947 (sampai dilebur didalam Tentara Nasional Indonesia).
2. Anggota Dewan Penasehat Panglima Besar Jenderal Sudirman.
3. Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata Seluruh Jawa dan Madura.
4. Dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia, bersama Jenderal Sudinnan, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Soerjadarma, Laksamana Nazir dan sebagainya, dengan pangkat Mayor Jenderal TNI AD, dengan tugas koordinator AD, AL, AU di bidang informasi dan perlengkapan perang.
5. Anggota Staf Gabungan Angkatan Perang RI.
6. Ketua Panitia Angkutan Darat (membawahi bidang kereta api, bis antar kota dan sebagainya, dengan tugas mengkoordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah RI) dan bertanggung jawab langsung kepada Panglima Besar TNI.
7. Membuat siaran pengumuman panggilan masuk kemiliteran RI yang pertama.
Sumber: Bung Tomo Suamiku, Jakarta (Pustaka Sinar Harapan, 1995)
Bulan November, sepertinya bulan yang paling diingat warga Surabaya, bahkan mungkin juga mengalahkan bulan Mei, bulan dimana HUT Kota Surabaya ini dirayakan. Pada November, ada peristiwa heroik pertempuran 10 November, di dalam peristiwa itu yang menjadi tokoh arek Suroboyo adalah Bung Tomo, yang baru setahun ini dianugerahi gelar pahlawan ...