Bingung mau jual atau rumah, atau bingung mencari produk properti lainnya? Meluncur saja ke alamat http://grahakita.com. Tak perlu keluar rumah, mata tak perlu melotot, membaca baris demi baris tulisan super kecil iklan baris di media cetak. Cukup klik, apa yang anda cari. lanjut
Bulan November, sepertinya bulan yang paling diingat warga Surabaya, bahkan mungkin juga mengalahkan bulan Mei, bulan dimana HUT Kota Surabaya ini dirayakan. Pada November, ada peristiwa heroik pertempuran 10 November, di dalam peristiwa itu yang menjadi tokoh arek Suroboyo adalah Bung Tomo, yang baru setahun ini dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI.
Untuk mengenang heroisme arek-arek Suroboyo melawan penjajah itu, berdirilah nama sebuah stadion Gelora 10 November (tapi aneh, orang Surabaya terbiasa menyebut gelora Tambaksari!!!!!). Tapi, kalau bulan November seperti ini, pasti yang teringat adalah Hari Pahlawan, yang pasti dingat Surabaya adalah Kota Pahlawan, dan tidak lupa Bung Tomo.
Biasanya, warga Surabaya akrab dipanggil Cak atau Rek, tapi Bung tomo tidak. Ia lebih dikenal dengan sebutan Bung. Untuk melengkapi tulisan ini, saya mengutip artikel di Harian Surya, tempat saya pernah bekerja dulu.
Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Ia melewati masa kecil hingga dewasa di Surabaya. Arek Suroboyo asli. Tapi, nama masyhurnya bukan Cak Tomo, melainkan Bung Tomo. Inilah biodata singkat Cak, eh, Bung Tomo.
Masa remaja:
1. Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) Lulus Ujian Pandu Kelas I (yang pertama di Jawa Timur dan kedua untuk seluruh Indonesia), di Indonesia waktu itu hanya ada tiga pandu kelas satu.
2. Sekretaris Parindra ranting anak cabang di tembok duku, Surabaya sekitar tabun 1937.
3. Ketua ke1ompok sandiwara Pemuda Indonesia raya di Surabaya, mementaskan cerita-cerita perjuangan tahun 1939 sampai balatentara Jepang datang.
Masa Pemuda:
1. Wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937.
2. Wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939.
3. Redaktur Mingguan Pembela Rakyat, di Surabaya 1938.
4. Pembantu koresponden untuk Surabaya, Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta, sebelum perang di bawah asuhan almarhum Anjar Asmara.
5. Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang).
6. Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.
Masa Revolusi Fisik 1945-1949:
1. Ketua umum/pucuk pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabangnya di seluruh Indonesia. BPRI mendidik, melatih dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata ke seluruh wilayah tanah air. Setiap malam mengucapkan pidato dari Radio BPRI untuk mengobarkan semangat perjuangan yang selalu di relai oleh RRI di seluruh wilayah Indonesia (1945-1949). Sebagai pimpinan BPRI sejak 12 Oktober 1945 sampai Juni 1947 (sampai dilebur didalam Tentara Nasional Indonesia).
2. Anggota Dewan Penasehat Panglima Besar Jenderal Sudirman.
3. Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata Seluruh Jawa dan Madura.
4. Dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia, bersama Jenderal Sudinnan, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Soerjadarma, Laksamana Nazir dan sebagainya, dengan pangkat Mayor Jenderal TNI AD, dengan tugas koordinator AD, AL, AU di bidang informasi dan perlengkapan perang.
5. Anggota Staf Gabungan Angkatan Perang RI.
6. Ketua Panitia Angkutan Darat (membawahi bidang kereta api, bis antar kota dan sebagainya, dengan tugas mengkoordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah RI) dan bertanggung jawab langsung kepada Panglima Besar TNI.
7. Membuat siaran pengumuman panggilan masuk kemiliteran RI yang pertama.
Sumber: Bung Tomo Suamiku, Jakarta (Pustaka Sinar Harapan, 1995)
Boleh saja orang memandang remeh makam Peneleh sekarang. Makam lawas yang rusak dan kotor. Namun sejarah tidak bisa menampik, jika Makam Peneleh adalah salah satu pekuburan modern tertua di Dunia. lanjut
Selain Tugu Pahlawan, Bambu Runcing dan tugu Suro lan Boyo di depan Bon Bin, sebenarnya masih ada lagi tetenger di Surabaya ini. Tapi ini tetenger tak resmi, tapi yang jelas ini sudah ada sejak saya masih kecil dan sampai sekarang masih berdiri dan masih belum berubah! lanjut
Di tengah tumpah ruahnya iklan politik caleg di jalanan dan media massa, tentu dibutuhkan strategi jitu agar pesan yang disampaikan bisa memasuki ruang kognitif publik dan membuat sosok caleg yang diusung lebih dikenal. lanjut
Masih berkaitan dengan HUT Surabaya ke-716, foto-foto seputar aktivitas yang ada di sepanjang sungai ini setidaknya mengurangi polusi pemandangan yang terjadi sehari-hari di kota debu ini. Lumayan buat seger-segeran. lanjut
Tak beda dengan teroris yang ruang geraknya kian sempit petugas Densus 88, para perokok yang ada di wilayah Surabaya kini tak leluasa lagi mengotori udara Surabaya. lanjut