masakgos.com
Arek Suroboyo, Asli!!!
Mudik, Perjalanan Kerjap-Kerjap
Categories: Ceplas-ceplos, Kliping

mudikLebaran adalah ketupat, opor ayam dan sirup yang menyelingi di sela-sela obrolan dalam kunjungan. Orang menyebutnya silaturahim, meski dengan keakraban yang terasa berlebih.  Namun sebelum menikmati itu, orang-orang menjalani waktu, menit, jarak dalam ritus sosial yang sering disebut mudik.

Entah mulai kapan dan diawali siapa orang-orang Indonesia melakukan mudik. Tapi mudik adalah pilihan kata yang jitu untuk mendeskiripsikan orang-orang yang pulang ke kampung halamannya di saat menjelang lebaran. Mudik, seperti kata pembentuknya udik, adalah kampung.

Jutaan orang akan pulang kampung untuk berlebaran. Betapa sulitnya, atau pikuknya membayangkan begitu banyak orang bergerak, bergegas menuju ke suatu tempat dalam waktu yang hampir bersamaan. Meski pemerintah telah melakukan antipasi dengan menambah armada atau menyediakan peta aman jalur mudik, bayangan itu tidak bisa hilang. Semua tahu, kita tidak punya sistem angkutan umum yang nyaman, aman dan murah.

Lalu mudik dekat dengan kleleran di ruang tunggu untuk antri tiket beserta calo-nya, tumpukan kardus sekadar oleh-oleh, berebut tempat dikendaraan umum dengan tangisan bayi sebagai aksennya, sampai dengan kita harus berlama-lama dalam posisi yang tidak nyaman di kendaraan. Belum lagi soal copet yang berkeliaran. Itu masih ditambah memahalnya biaya ketika waktu lebaran makin mendekat. Kalau dipikir, menjalani ritus mudik bukankah aktivitas yang enak menyenangkan. Anehnya, orang-orang tak lelah-lelahnya melakukan itu, ulang-berulang tiap tahun. Padahal untuk pulang kampung, kita bisa memilih waktu lain yang lebih longgar. Tapi orang enggan karena kepulangannya tak dinamai mudik, hanya pulang kampung biasa. Mudik lebaran pun terasa lebih wajib dari pada menjalankan ibadah puasa itu sendiri. Tak salah jika kemudian ada yang bilang: Mudik mengatasi akal.

Kita bisa menduga, pasti ada sesuatu yang besar yang mendorong orang melakukan ritus mudik. Tidak cukup jika hanya untuk berlebaran seperti ditulis diatas. Sesuatu yang membuat kerjap-kerjap dalam hati menguat seiring mendekatnya jarak kampung halaman dan waktu lebaran yang tahun ini dalam hitungan masehi jatuh pada 14 November nanti.

Banyak misteri memang dalam hidup. Manusia adalah salah satunya yang terbesar. Namun manusia adalah khas pada dirinya. Ia paham bahwa dirinya adalah misteri. Untuk alasan itu kemudian ada agama, filsafat, ilmu pengetahuan, seni. Itu semua upaya untuk menyingkap manusia.

Kalau kita percaya pada eksistensialisme, maka manusia itu bukanlah entitas yang final. Bukan sekadar an sich daging yang hidup. Kita semua adalah me-manusia. Artinya, kita selalu dalam proses menjadi manusia, terus menerus tanpa henti. Hanya mungkin ada sedikit jeda.

Wajar jika dalam perjalanannya itu ada halangan, hambatan, aral, naik dan turun. Apalagi pada zaman sekarang dimana teriakan Madonna, “We are livin in a material world,” seperti liriknya dalam lagu “Material Girl,” yang membuatnya tenar. Teriakan yang terus menyusup pada kita.

Madonna pasti tidak sedang mengada-ada. Bagaimanapun juga, apa yang diteriakannya merupakan representasi sebuah kondisi, suka atau tidak suka. Dan Madonna jujur atas itu. Kita sekarang memang hidup dalam dunia dimana materi bersimaharajalela. Semua orang serba berhitung, untung rugi.

Kita bisa mengutuk uang atas itu. Memang uang memudahkan hidup kita, tapi uang jugalah yang menghilangkan kualitas-kualitas tertentu yang sebenarnya tidak bisa kita hitung, kita kuantifikasi. Setiap ketikan di keyboard adalah berbeda bagi wartawan satu dengan lainnya lainnya. Tapi di akhir bulan, dia akan menerima sejumlah upah yang sama, asalkan, misalnya ia telah bekerja dalam rentang waktu yang sama. Dan uang bisa melakukan itu  karena ia punya kekuatan yang namanya nilai tukar.

Perhitungan untung rugi – sebagai kutukan dari uang – memang makin terasa ketika kita di kota. Hanya di kota kita punya istilah “time si money,’. Waktu tidak pernah dialami, dimaknai sebagai sebuah kualitas, tapi sebuah kuantitas. Berapa lama harus sepadan dengan berapa banyak,  betapa untung. Maka bergegaslah.

Bagi orang-orang kota, uang memang jadi cara termudah untuk mengukur kesuksesan seseorang. Karena mereka tidak harus sulit-sulit untuk menghargai kualitas yang ada dalam sebuah individu, uang menghilangkan itu. Uang juga bisa ditukar dengan segala yang mencolok. Dan agar semua orang bisa dengan mudah melihat dan menilai kita sukses, maka kita harus mencari uang sebanyak-banyaknya.Perlahan dan pasti, uang kemudian jadi penguasa atas me-manusia-nya kita. Mereka jadi tirani. Dan semua tirani pasti akan mengasingkan kan kita.

Terasing adalah hal yang lebih kita rasakan, bukan kita pikirkan. Keterasingan akibat uang, oleh materi membuat orang-orang di kota secara tak sadar punya kerinduan yang dalam untuk membuat me-manusia mereka lebih bermakna, untuk menghilangkan barang sejenak keterasingan itu. Dan lebaran adalah waktu yang tepat bagi mereka.

Sebab, orang-orang kota bisa pulang ke kampung halamannya dengan perasaan tenang. Mereka mahfum akan ada orang-orang di kampung yang akan menerima mereka apa adanya. Apalagi saat lebaran orang akan jadi sangat ramah dan terbuka.  Saat  lebaran pula, semua potongan, fragmen, atau segala hal yang membentuk kita seakan dihadirkan kembali. Pada kerabat, oleh teman, dalam cerita. Sesuatu yang membuat apa yang kita lakukan selama ini terasa begitu berharga.

Kerinduan untuk hal-hal yang pernik dalam proses me-manusia itu membuat orang rela berdesak-desakan dan menyampingkan hampir segala perhitungan, utamanya untung-rugi. Itu mengapa saat hendak lebaran banyak orang bilang, “Saya akan tetap mudik, meski dibayar berlipat-lipat untuk bekerja.” (*)

Artikel ini ditulis teman saya Helmi Firdaus ketika kami masih bersama di koran legendaris Surabaya, Surabaya Post. Sekarang, Helmi bekerja di harian Seputar Indonesia. Kalau gak salah, artikel ini dimuat menjelang Lebaran tahun 2004 lalu. Tapi saya kira masih relevan dengan kondisi sekarang.


Leave a Reply