Jalanan Kota Surabaya sudah mulai ramai setelah beberapa hari ditinggal mudik penghuninya. Aktivitas kota mulai normal kembali setelah Hari Raya Idul Fitri.
Lebaran kemarin, saya tidak mudik kemana-mana ( lha wong gak punya ndeso). Riyoyo derr saya masih tinggal di Surabaya. Anak saya, Ramadhan justru yang ngajak saya mudik. “Yah, ayah….kita kok tidak mudik,” tanya anak saya. Saya tidak langsung menjawab, cuma tersenyum saja.
“Lha mudik kemana lho,” saya malah balik bertanya ke bocah yang baru kelas 1 SD itu. “Ke desa,” jawab anak saya singkat. Dialog singkat antara bapak dan anak, namun dia baru paham setelah saya jelaskan panjang lebar soal mudik.
………………………………………………………

Seperti biasanya, ritual Lebaran adalah berkunjung ke rumah sanak famili dan tonggo teparo untuk bermaaf-maafan dan mengucapkan selamat berlebaran. Tapi apa yang saya cari belum juga ketemu….apa itu? Khong Guan!!!
Dari puluhan rumah yang sudah saya kunjungi, di Surabaya tentunya, saya sama sekali belum menemui biscuit legendaris itu. Kenapa ya?
Barulah, ketika saya dan keluarga berkunjung ke rumah pakde yang berada di kawasan Lawang, Malang, saya melihat kaleng besar dengan tulisan mencolok…”Khong Guan”. “Kha..kha..kha…akhirnya ketemu juga,” tawa saya kepada istri tercinta seraya menunjuk kaleng besar dominan warna merah tersebut.
…………………………………….
Kembali lagi (setelah nglantur) ke Surabaya. Kampung-kampung lama di Surabaya kini sudah mulai berganti wajah. Pelan tapi pasti, wajah kampung lama yang jadul atau kalo menurut istilahnya Tukul ‘ndeso’ kini berubah modern.
Penduduknya pun kebanyakan para pendatang yang mengadu nasib di kota debu ini. Pantas saja jika lebaran, Surabaya jadi sepi tapi gak mirip kuburan kok.
Dan, penduduk yang baru pulang kampung itu sekarang berdatangan menyesaki tiap sudut kota buaya ini. Ada yang datang sendiri, ada yang datang bergerombol, ada yang datang bersama keluarga dan adapula yang datang mengajak saudara, kakak, adik, bapak, ipar, sepupu dan saudara-saudara lainnya.
So, Surabayaaaaaaaaa……………… i’m coming….
